Kemampuan Kendali Bisnis Kewirausahaan dalam Bidang Perpustakaan

Pernahkah anda berpikir bahwa jurusan ilmu perpustakaan itu hanya menjadi pustakawan saja? Tentu saja tidak, banyak peluang selain menjadi pustakawan, anda juga bisa berwirausaha di bidang perpustakaan. Namun, kebanyakan orang berfikir, berwirausaha di bidang perpustakaan itu sulit karena susahnya mencari bahan riset bisnis kewirausahaan berbasis perpustakaan. Jika anda seorang pustakawan yang bekerja di perpustakaan, apakah anda pernah melakukan perbaikan proses bisnis yang berkaitan dengan perpustakaan atau yang menjadi kewenangan anda? Jika jawabannya ya, anda juga memiliki jiwa kewirausahaan atau sebagai entrepreneurial librarian. Jika serangkaian proses urusan yang rumit kemudian disederhanakan sehingga memberikan efisiensi baik bagi pengguna maupun staf perpustakaan, hal itu merupakan hasil dari jiwa kewirausahaan. Perubahan yang dilakukan tentu merupakan hasil dari penggunaan perangkat inovasi atau kreatifitas, suatu elemen penting dari semangat kewirausahaan.

Istilah dalam bisnis perpustakaan dibagi menjadi dua. Pertama yaitu pemenuhan kebutuhan untuk internal perpustakaan (self-needs library) seperti menjual supply untuk kebutuhan perpustakaan yang misalnya pengadaan, dan kedua yaitu pemanfaatan perpustakaan untuk demands eksternal (library as a service) misalnya perpustakaan yang dapat menghasilkan terbitan riset industri atau bahkan industry outlook dari sumber internal yang mereka miliki untuk dijual ke industri tertentu.

Mempelajari best practices dari perpustakaan lain dari seluruh dunia itu penting untuk mengembangkan wawasan atau membangun visi. Dari pengalaman dan pengamatan akan terbangun sebuah mimpi seperti apa perpustakaan yang diidamkan. Kita harus bermimpi, dan dunia ini sesungguhnya penuh dengan pemimpi sehingga ada yang disebut systematic dreamer yaitu mereka yang bermimpi dan berupaya untuk merealisasikannya secara sistematis. Kewirausahaan adalah tindakan, gerakan, dan perubahan. Pemimpi bermimpi dan entrepreneur membuatnya menjadi kenyataan.

Entrepreneurship yaitu terjemahan dari kewirausahaan, dilontarkan tahun 1975 dan mulai diantara anggota Entrepreneur Development Program – Development Technology Centre (EDP-DTC) ITB berpendapat bahwa entrepreneurship spirit itu menciptakan nilai atau manfaat melalui inovasi yang diperlukan di kalangan organisasi kemasyarakatan maupun organisasi yang memberikan pelayanan publik (Astamoen. 2005:50). Entrepreneurship berasal dari kata entrepreneur yang diambil dari bahasa Perancis, yang berarti mereka yang berusaha itu berani melakukan pekerjaan yang sulit, dengan keberanian melakukan inisiatif dan juga aksi (Lasa Hs: 2006).

Jalan yang paling memungkinkan adalah menjadi expert dalam bidang yang sedang ditekuninya yaitu ilmu perpustakaan dan informasi kemudian membangun perpustakaan dengan bekerjasama dengan berbagai pihak. Berbagai bisnis penunjang perpustakaan yang akan dipegang kendali oleh pustakawan seperti di bawah ini;

1. Pengadaan sarana-prasarana (infrastructure)

Syarat utama agar perpustakaan digemari masyarakat adalah kenyamanan dan kelengkapan fasilitasnya. Menjadi penyedia sarana prasarana perpustakaan, dimulai dengan mendata kebutuhan sarana perpustakaan dasar dan teknologi yang baru. Kebutuhan sarana dasar perpustakaan mencakup meja, kursi, rak buku, lemari, loker penitipan, dan bisa ditambahkan karpet dan humidifier. Kemudian peralatan hardware seperti barcode scanner, komputer, dan alat-alat kantor lainnya. Untuk pendekatan kebutuhan teknologi baru seperti gate scanner, beacon, dan member access card.

2. Pemberdayaan sumber daya manusia (human resources development)

Prioritas selanjutnya adalah mengurus sumber daya manusia di perpustakaan. Karena SDM yang berkualitas memungkinkan untuk membuat perpustakaan yang berkualitas. Ini adalah potensi penting di perpustakaan yang bisa menjadi lahan bisnis. Pemberdayaan SDM di perpustakaan bisa dilakukan melalui sentralisasi perekrutan oleh vendor SDM yang benar-benar menyeleksi pustakawan dari berlatar belakang ilmu perpustakaan dan sejenisnya sehingga mengerti substansi ilmunya. Seperti memberikan pelatihan/training, membuat standar operasional, dan memfasilitasi sertifikasi pustakawan.

3. Penyuplai sumber konten (resources supplier)

Buku adalah kebutuhan mendasar bagi perpustakaan pada umumnya. Buku mungkin sudah mainstream jika dibahas disini karena mayoritas sudah mengetahui potensinya. Jika kita bisa melihat peluang diantara kita, contoh perpustakaan UI melanggan jurnal hampir IDR 2 miliar per tahun, dengan variasi harga antar distributor jurnal.

Siapa yang berhak menyuplai jurnal? Yaitu distributor pihak ketiga yang memiliki hak lisensi atas suatu publisher jurnal di Indonesia. Sama seperti di atas, salah satu penyedia market research Euromonitor Passport dilanggan oleh mereka yang harga berlangganannya diantara angka $2,500 hingga $100,000. Jika ada pihak ketiga yang berperan sebagai distributor lokal atau konsultan, maka margin sebesar 10%-15% sudah cukup besar.

4. Pengembangan teknologi informasi (IT development)

Jika di dalam bidang IT, hal yang bisa ditawarkan kepada proses perpustakaan adalah software sistem otomasi perpustakaan untuk cataloging dan retrieval. Bisa dibuatkan di jaringan local atau internet dengan sesederhana itu. Nilai proyek ini relatif dari jumlah bahan yang akan dimasukkan ke dalam sistem (jumlah bahan  biaya input) dan kostumisasi sistem. Kemudian penawaran untuk solusi end-to-end IT di perpustakaan untuk cataloging besar, dimulai dari cabling, networking, storage, desktop, dan bandwith. Nilai proyek ini dilihat dari kebutuhan perpustakaan, seperti jumlah banyaknya buku yang ingin dimasukkan apakah hanya metadata saja atau sekaligus dengan digitalisasinya, seberapa baik performa desktop PC yang diinginkan, dan sebagainya. Selanjutnya yaitu penawaran untuk digitalisasi bahan pustaka. Namun harus mempersiapkan hardware scanning yang berkualitas. Pastikan storage digital mencukupi untuk memuat hasil digitalisasi.

5. Pemasaran perpustakaan (library marketing)

Tantangan bagi perpustakaan adalah masalah promosi atau self-branding. Kita bisa menciptakan peluang sebagai konsultan marketing perpustakaan dengan pendekatan-pendekatan terbaru. Bukan hanya strategi media sosial saja, namun juga bisa menghost event-event yang kreatif dan kolaboratif kepada komunitas sekitar.

 

Berdasarkai data dari paper yang ditulis oleh Dr. Zulfikar Zen yang diterbitkan oleh IFLA, jumlah perpustakaan di Indonesia yaitu dengan rincian; 1 National Libraries, 499 Public Libraries, 19.280 Community Libraries/Village libraries, 3226 Academic Libraries, 1802 Special Libraries, dan 226.640 School Libraries. Dengan jumlah 251.448, bahwa setiap perpustakaan bisa ditawarkan berbagai kombinasi jenis barang dan jasa sesuai kebutuhannya. Dengan men-support lahan ini saja akan banyak pustakawan yang akan menjadi miliarder.

Bahkan menurut beliau dalam papernya, perpustakaan dengan jumlah di atas masih sangat kurang jika dibandingkan dengan kebutuhan daerah di Nusantara yang berarti masih dibutuhkan perpustakaan-perpustakaan baru yang berkualitas. Selain modal pribadi atau dengan melobi pemerintah untuk merealisasikan ini, mencari relasi, investor, ataupun proposal grant internasional bisa dicoba untuk mewujudkannya.

Sumber Referensi

Astamoen, Moko P (2005), Entrepreneurship dalam prespektif kondisi bangsa Indonesia, Bandung: Alfabeta.

Lasa HS (2004), Mewirausahakan perpustakaan: suatu pemikiran, Yogyakarta: UGM.

https://id.linkedin.com/pulse/ladang-emas-di-bisnis-perpustakaan-nafi-a-putrawan

Zen, Zulfikar (2019), ASEAN Integration : Cross Border Mobility of Librarians – Indonesia. Paper. IFLA.